Film pertama kali di pertontonkan untuk masyarakat umum pada tahun 1895 di Perancis. Peristiwa ini sekaligus terlahirnya film dan bioskop di dunia. Meskipun film ini sendiri sudah ada pada masa tahun 130 masehi, namun dunia internasional mengakuinya pada tahun 1895.
Pelopornya adalah dua bersaudara Lumiere bernama Louis dan Auguste. Meskipun banyak pelopor-pelopor lainnya juga menyelenggarakan bioskop, tapi Lumiere bersaudara inilah yang diakui oleh kalangan internasional. Kemudian film dan bioskop ini terselenggara pula di Inggris, Uni Sovyet, Jepang, Korea dan di Italy.
Perubahan dalam industri perfilman jelas berdampak pada teknologi yang digunakan. Jika awalnya film berupa gambar hitam putih, bisu dan sangat cepat, Kemudian berkembang hingga dengan perubahan gambar menjadi berwarna dan dengan berbagai efek-efek yang membuat film lebih dramatis dan terlihat lebih nyata serta lebih menarik.
Film tidak hanya dapat ditonton di televisi dan bioskop, namun dengan kehadiran VCD dan DVD, film dapat di tonton deirumah dengan kualitas gambar yang baik dengan tata suara yang rapi, yang disebut sebagai Home Theater. Dengan perkembangan munculnya internet, fil juga dapat di tonton lewat jaringan superhighway.
Informasi yang cukup menarik untuk diperbincangkan mengenai industri perfilman adalah persaingannya dengan televise. Untuk menyaingi televise, film diproduksi dengan layar lebih lebar, waktu putar yang lebih lama dan dengan biaya yang lebih besar untuk mendapatkan kualitaas yang lebih baik. Manfaat unik yang dimiliki film adalah hasil produksi sekelompok orang yang berpengaruh terhadap hasil film dan film mempunyai aliran-aliran yang menggambarkan segmentasi dari penontonnya. Bagi Amerika Serikat, meski film-film yang diproduksi berlatar belakang budaya Amerika, namun film-film tersebut merupakan ladang ekspor yang memberikan keuntungan lumayan cukup besar.
Dan hal lainnya adalah kolongmerasi dalam industri perfilman, dimana para kolongmerat besar dunia industri perfilman mempunyai control terhadap pendistribusian film ke bioskop, video, stasiun televisi kabel dan stasiun televisi luar negeri. Hal tersebut yang membuat pemain baru tidak bisa masuk.
Hampir sama dengan industri musik dan rekaman, pelanggaran hak atas kekayaan intektual juga menghantui industri perfilman. Meski dalam setiap film diproduksi Amerika Serikat terhadap peringatan dari FBI, namun pembajakan film tetap saja tidak dapat dihentikan begitu saja.
Industri Film di Indonesia
Dunia industri perfilman di Indonesia sudah dua dekade lamanya menjadi bahan perbincangan di kalangan masyarakat Indonesia. Film-film Indonesia selama dua dekade ini (1980-an dan 1990-an) terpuruk sangat dalam. Insan film Indonesia seperti tak bisa berkutik menghadapi arus film impor. Masalah yang harus dihadapi sangatlah kompleks. Mulai dari persoalan dana, SDM hingga kebijakan pemerintah. Persoalan ini dari tahun ke tahun semakin melebarkan jarak antara film, bioskop dan penonton, tiga komponen yan gseharusnya memiliki pemahaman yang sama terhadap sebuah industri film.
nonton film subtitle indonesia Di awal millennium ini tampak mulai ada gairah baru dalam industri film di Indonesia. Beberapa karya Sineas lainnya seperti memberikan semangat baru pada industri film Indonesia. Kenyataan ini cukup memberikan harapan, karena selain terjadi disaat bersamaan dengan bangkitnya film-film dari dunia ketiga, tak terasa bahwa industri perfilman sesungguhnya sudah serratus tahun dikenal di Indonesia.
Di Indonesia, film pertama kali diperkenalkan pada tahun 1900-an. Pada masa itu film disebut sebagai “Gambar Idoep”. Pertunjukan film pertama kali digelar di Tanah Abang. Film adalah sebuah documenter yang menggambarkan perjalanan Raja dan Ratu Belanda di Den Haag. Pertunjukan pertama ini kurang sukses karena harga tiket yang lebih mahal, sehingga pada awal tahun 1901 harga tiket dikurangi hingga 75% untuk menarik peminat penonton.
Film cerita pertama kali dikenal di Indonesia yang diimpor dari Amerika. Film-film impor ini berubah judul kedalam Bahasa melayu. Film cerita impor ini cukup laku di Indonesia dengan jumlah penonton dan bioskop yang semakin meningkat. Daya tarik tontonan ini cukup mengagumkan. Film local pertama kali diproduksi pada tahun 1926 dan sebuah film cerita yang masih bisu.
Industri film lokal baru bisa membuat film bersuara pada tahun 1931. Film diproduksi oleh Tans Film Company bekerjasama dengan Kruegers Film Bedrif di bandung. Selama kurun waktu itu (1926-1931) sebanyak 21 judul film bisu dan bersuara, dan jumlah bioskop meningkat dengan pesat.
Untuk lebih mempopulerkan film Indonesis, Djamaludin Malik membentuk Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) pada tahun 1954 dan mendorong adanya Festival Film Indonesia (FFI) pertama pada tahun 1955. Sebuah film yang menyampaikan kritik sosial yang sangat tajam mengenai para pejuan setelah kemerdekaan.
Di tahun ’80-an, produksi film local meningkat dari 64 judul film menjadi 721 judul film. Dengan jumlah actor dan aktris yang meningkat dengan pesat, begitu pula penonton yang mendatangi bioskop. Tema-tema komedi, seks, horror dan musik mendominasi produksi film. Sejumlah film dan bintan gfilm mencatat sukses besar dalam meraih penonton. Dan film yang paling monumental dalam hal jumlah penonton adalah film Pengkhianatan G-30S/PKI yang penontonnya (meskipun ada campur tangan pemerintah pada masa Orde Baru) sebanyak 699.282 masih sangat sulit untuk di tandingi oleh film-film local lainnya.
Film Catatan Si Boy dan Lupus bahkan dibuat beberapa kali karena sukses meraih untung dari jumlah penonton yang mencapai rekor tersendiri. Tapi yang paling monumental dalam hal jumlah penonton adalah film Pengkhianatan G-30S/PKI yang penontonnya (meskipun ada campur tangan pemerintah Orde Baru) sebanyak 699.282, masih sangat sulit untuk di tandingi oleh film-film lokal lainnya.
Kalau di awal muncul bioskop, satu bioskop bisa memiliki beberapa pembagian kelas penonton di tahun ‘80an. Cinemascope kemudian lebih dikenal sebagai bioskop21, dengan kehadiran bioskop21 film-film local mulai tergeser peredarannya di bioskop-bioskop kecil dan di pinggiran. Apalagi dengan tema film yang cenderuing monoton dan cenderung dibuat hanya untuk mengejar keuntungan saja tanpa mempertimbangkan mutu dari film tersebut.
Hal lain yang juga tak bisa dihindari turut berperan dalam terpuruknya film nasional adalah dengan adanya impor dan distribusi film yang diserahkan pada pihak swasta. Bioskop21 bahkan hanya memutar film-film produksi Hollywood saja dan tidak memutar film-film local. Akibatnya di akhir tahun ’80-an kondisi film nasional semakin parah dengan hadirnya stasiun-stasiun televisi swasta yang menghadirkan film-film impor dan sinema elektronik serta telenovela.
Meski dalam kondisi “menurun” beberapa karya seperti karya dari Garin Nugroho mampu memenangkan berbagai penghargaan di festival film Internasional. Pertengahan ’90-an film-film nasional yang tengah mengalami krisis ekonomi harus bersaing keras dengan sinetron-sinetron di televisi swasta. Praktis semua aktor dan aktris panggung layar lebar beralih ke layar kaca. Apalagi dengan hadirnya Laser Disc, VCD dan DVD yang memudahkan masyarakat untuk menikmati film impor. Ditambahkan sekarang, situs streaming telah hadir dengan subtitle indonesia.
Disisi lain, kehadiran kamere digital berdampak positif juga dalam dunia perfilman Indonesia dan mulai terbangun komunitas film-film indenpenden. Film-film yang dibuat diluar aturan yang ada, mulai diproduksi dengan spirit militan. Meskipun banyak film yang kelihatan amatir, namun terdapat juga beberapa film-film dengan kualitas sinematografi yang cukup baik. Sayangnya film-film indenpenden ini masih belum memiliki jaringan peredaran yang baik. Sehingga film-film ini hanya bisa dilihat secara terbatas saja.
Film Indonesia mulai berkembang kembali, beberapa film yang booming dengan jumlah penonton yang sangat banyak seperti Ada Apa Dengan Cinta, yang membangkitkan kembali industri perfilman Indonesia. Beberapa film lain yang menggiring penonton ke bioskop seperti Petualang Sherina, Jelangkung, Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih , Laskar Pelangi dan Naga Bonar Jadi 2. Genre film-film Indonesia juga semakin bervariatif, meski tema-tema yang diusung terkadang belum sempurna. Jika sedang ramai-ramainya masyarakat menonton film horror, maka banyak yang akan mengambil tema horror. Begitu juga dengan tema-tema remaja ataupun anak sekolah.
Dengan variasi yang diusungkan, memberikan kesempatan media perfilman menjadi sarana pembelajaran dan motivator bagi masyarakat. Bahkan Indonesia sudah mulai memasuki Industri perfilman Animasi, meski bukan yang pertama, dulu pernah ada animasi Huma yang hadir dan direncanakan akan Go Internasional.